Kamis, 18 Juni 2009

Tujuh Ciri Mendapatkan Kebaikan di Dunia


“Dan diantara mereka ada orang yang berdoa : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang kita mintai pertolongan adalah sebuah keharusan. Sebab, Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Setiap kejadian, Allah-lah yang menentukannya. Dia menentukan takdir setiap urusan makhluk-Nya. Karenanya, jangan heran jika setiap muslim dianjurkan berdoa kepada Allah baik dalam keadaan sempit atau pun lapang, agar kebaikan selalu ada bersamanya.

Ada sebuah doa yang sudah menjadi favorit kaum muslimin agar memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat. Setiap berdoa, kita biasanya tidak melewatkan untuk membaca doa ini. Doa ini berbunyi, “Rabbana atina fi dunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar”. Artinya, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Para ulama memberikan keterangan berkaitan harapan setiap muslim melalui doa itu. Berkaitan dengan kalimat “fi dunya hasanah”, setidaknya ada tujuh hal yang akan diperoleh seorang muslim jika doanya dikabulkan Allah SWT.

Pertama, selalu bersyukur kepada Allah. Setiap muslim yang telah memperoleh kebaikan di dunia, akan selalu bersyukur kepada Allah SWT apapun ketentuan Allah kepadanya. Saat diberi kenikmatan ia makin bersyukur dan ketika diberi musibah ia bersabar. Orang-orang yang selalu bersyukur kepada-Nya akan terus diberi kenikmatan hidup oleh-Nya. “Lain syakartum laazidannakum”, artinya, “Apabila kalian bersyukur niscaya akan kutambah nikmat-Ku kepadamu,” kata Allah SWT dalam Al-Quran.

Kedua, memiliki pendamping yang shalih/shalihah. Setiap muslim yang diberi kebaikan di dunia akan diberi pendamping yang baik. Seorang laki-laki akan mendapatkan istri yang shalihah. Dan begitu pula seorang wanita akan mendapatkan suami yang shalih.

Ketiga, memiliki anak yang shalih dan shalihah. Memiliki anak yang shalih dan shalihah adalah harapan setiap orang tua muslim. Anak yang shalih atau shalihah adalah investasi terbaik setiap muslim. Keshalihan seorang anak akan memberikan manfaat kepada keluarga, bangsa dan agamanya. Sudah tentu, pahalanya akan mengalir deras kepada kedua orang tuanya.

Keempat, memiliki harta yang berkah. Harta yang berkah bukanlah berati banyak melimpah ruah. Keberkahan harta tidak terkait dengan jumlah. Tetapi, harta yang berkah merupakan harta yang bisa memberikan manfaat bagi pemiliknya dan orang lain. harta tersebut diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk keperluan fi sabilillah. Harta itu akan menjadi jalan amal shalih bagi pemiliknya. Tentu saja, akan lebih baik bila kita memiliki harta yang banyak dan berkah dibandingkan sedikit tapi tidak berkah.

Kelima, tidak memiliki hutang. Memiliki hutang tidaklah dilarang dalam ajaran Islam. Hanya saja, hutang bisa menyebabkan hidup seseorang kurang nyaman dan bahagia. Biasanya, orang yang memiliki hutang kurang dihargai orang lain, terlebih oleh orang yang memberikan piutang. Setiap muslim harus berusaha untuk melunasi hutang dengan sungguh-sungguh. Sebab, hutang bisa menyebabkan ditangguhkannya masuk ke surga sebelum hutangnya dilunasi, meskipun ia mati dalam jihad fi sabilillah.

Keenam, ilmunya bermanfaat. Banyak orang yang memiliki ilmu, namun hanya sedikit ilmunya bermanfaat. Orang-orang yang mendapatkan kebaikan di dunia (fi dunya hasanah), jika memiliki ilmu maka ilmunya akan bermanfaat bagi orang lain dan agama.

Ketujuh, umurnya berkah. Usia yang berkah tidak terkait dengan usia yang panjang. Seseorang yang umurnya berkah selalu menjadikan tiap ada detik waktu yang disia-siakannya. Sepanjang usianya ia gunakan untuk beribadah, beramal dan berdakwah. Ia tebarkan manfaat kepada siapa pun. Ia bergaul dengan orang-orang shalih agar kecipratan keberkahan hidup. Baginya, tidak ada waktu kecuali beramal, beramal, dan beramal.

Untuk itu, berdoalah selalu kepada Allah SWT agar diberi kebaikan dan keselamatan dalam kehidupan ini. Teruslah bersyukur atas semua nikmat-Nya dan bersabar terhadap musibah-Nya. Bekerjalah untuk memperoleh rezeki yang halal dengan cara yang halal. Didiklah putera puteri kita agar menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Tebarkanlah selalu kebaikan agar usia kita berkah dan bermanfaat.

Wallahu a’lam bishshawwab.

PANTUN NASEHAT

Banyak sayur dijual di pasar
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
cepat cepatlah pergi makan

Kalau harimau sedang mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama

Hati-hati menyeberang
Jangan sampai titian patah
Hati-hati di rantau orang
Jangan sampai berbuat salah

Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.

Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan

Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat

Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding

Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah

Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan

Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus harapan

Anak ayam turun delapan
Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju

Ada ubi ada talas
Ada budi ada balas
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan merana

Jalan kelam disangka terang
Hati kelam disangka suci
Akal pendek banyak dipandang
Janganlah hati kita dikunci

Bunga mawar bunga melati
Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran paham maknanya

Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi
Kala nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati

Ke hulu membuat pagar,
Jangan terpotong batang durian;
Cari guru tempat belajar,
Supaya jangan sesal kemudian.

Tiap nafas tiadalah kekal
Siapkan bekal menjelang wafat
Turutlah Nabi siapkan bekal
Dengan sebar ilmu manfaat

Dari berbagai sumber
http://www.perpustakaan-online.blogspot.com


Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat

Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding

Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah

Kemumu di tengh pekan
Di hembus angin jatuh ke bawah
Ilmu yang tak pernah di amalkan
Bagai pohon tak berbuah

banyak hari antara hari
tak semulia hari jumat
banyak nabi antara nabi
tak semulia nabi Muhammad

Pisang emas dibawah berlayar
Masak sebiji dimasukkan peti
Utang emas dapat dibayar
Utang budi dibawa mati

Banyak sudah buah semangka
Dibawah anak dalam sampan
Banyak sudah anak jejaka
Hanya kakak paling tampan

Timun emas membawa paku
Lari kencang takut raksasa
Rajin membaca bertambah ilmu
Rajin bekerja bertambah harta

Putri salju amat cantik
Baik budi suka menolong
Ingin jadi anak baik
Jangan suka bicara bohong

Anak kancil pakai dasi
Celana biru baju kuning
Kalau ingin rai h prestasi
Tepat waktu sangatlah penting

Seekor harimau mengejar domba
Domba lari sangatlah cepat
Jika hidup banyak dosa
Jangan tunda untuk bertobat

Kalau gugur gugurkan nangka
Jangan ditimpa cabang pauh
Kalau tidur tidurkan mata
Jangan ditimpa orang jauh

alan-jalan ke kota naik kuda
jangan lupa membeli celana
wahai kawan jauhilah narkoba
jika tidak ingin celaka

(Diambil dari berbagai sumber)

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

dialog imajiner dengan koruptor soleh


Fenomena orang sholeh secara formal yang korupsi
sungguh membingungkan. Apa yang ada dipikiran mereka
manakala mereka naik haji dan umrah berkali-kali tapi
tetap bolak-balik korupsi. Di bawah ini ada dua dialog
imajiner dengan koruptor yang sholeh. Dua dialog ini
mewakili koruptor berIQ jongkok tapi tentu saja pandai
menyenangkan atasan. Sehari-hari beliau bertugas
sebagai pejabat BUMN. Satunya lagi koruptor yang
menjadikan agama sebagai sarana mencapai kenikmatan
duniawi dan bertuhankan materi. Sehari-hari beliau
sebagai pengusaha rekanan BUMN dan departemen
pemerintah. Kedua koruptor ini pandai bermasyarakat
dan dikenal dermawan. Yang pertama kita sebut koruptor
soleh 1 (KS1) dan kedua kita sebut koruptor soleh 2
(KS2).

Dialog dengan KS1

Wartawan:
Apakah benar bapak ini koruptor?

Koruptor Sholeh (KS1):
Ah, nggak. Mana buktinya? Paling-paling saya dapat
hadiah dari rekanan atau kalau saya perlu sesuatu
mereka biasanya cukup sensitive untuk membantu.

Wartawan:
Kalau bapak tidak menerima hadiah dari rekanan tsb,
apakah bapak masih akan memberikan proyeknya kepada
mereka?

KS1:
Ya, kita kan saling pengertian lah. Kalau rekanan
kurang pengertian, gimana dong?

Wartawan:
Bukankah ada cerita dimana Umar Ibnu Aziz bahkan
mematikan lampu, manakala dia menerima tamu pribadi?

KS1:
Itu kan jaman dulu. Jaman sekarang mana bisa Mas.
Semua ada harganya.

Wartwan:
Oooo gituuuu (dalam hatinya percuma meneruskan
wawancara dengan koruptor yang ijasah doktornya di
dapat dari suatu lembaga di Amerika tapi tidak bisa
ditelusuri letaknya).

______________________________________
Dialog dengan KS2

Wartawan:
Apakah bapak koruptor?

KS2:
Ya terserahlah. Semua orang juga begitu lah mas.
Jangan munafik deh. Saya nyumbang ke lingkungan saya
tinggal, nyumbang untuk organisasi olah raga, ke
partai politik, ke pesantren, bahkan untuk bikin rumah
ibadah.

Wartawan:
Kan korupsi tidak diperbolehkan agama pak?

KS2:
Ini kan darurat mas. Kalau saya nggak sogok sana sogok
sini mana bakalan saya dapat proyek besar. Sedangkan
proyek besar kan kebanyakan dari pemerintah.

Wartawan:
Sampai kapan bapak anggap situasi darurat ini
berlangsung dan setelah berapa besar usaha bapak
sampai memutuskan berhenti berkolusi?

KS2:
Saya nggak tau mas. Saya rasa selama situasinya masih
begini saya susah untuk tidak melakukan ini. Kalau
saya berhenti menyogok nanti orang lain yang akan
melakukannya?

Wartawan:
Ya biarkan aja pak. Kan bapak terkenal sebagai orang
yang taat beribadah. Itu jelas-jelas melanggar aturan
agama pak?

KS2:
Coba sampeyan bayangkan kalau proyek ini diambil oleh
orang yang agamanya lain dengan saya. Berarti
keuntungannya kan jatuh ke orang yang beragama lain
tsb. Nanti agama itu akan semakin ekspansif aja dong.
Dan banyak orang yang disumbang oleh orang tsb dan
akhirnya pengikut agama saya akan makin sedikit aja.
Iya nggak?

Wartawan:
Tapi kan pak, Rosul kita mengajarkan untuk tidak
menghalalkan cara untuk mencapai tujuan?

KS2:
Lagi-lagi ini darurat mas. Situasi sekarang kan beda.

Wartawan:
Bapak kok kelihatannya enak ya hidupnya. Bisa ke tanah
suci berkali-kali dan memiliki rumah yang bagus dan
simpanan yang cukup. Bukankah Rosul mecontohkan hidup
sederhana pak? (Dalam hati wartawan ini, sebelum
menjadi Rosul, beliau adalah pedagang yang kaya raya.
Kekayaannya tentu saja diperoleh dengan cara halal.
Dan kekayaan tersebut dihabiskan untuk memperjuangkan
agama yang benar. Setelah menaklukkan dataran
Arabiapun beliau tetap hidup dengan sangat sederhana).

KS2:
Saya kan manusia biasa mas, bukan Nabi. Lagi pula saya
sudah sebutkan tadi saya menyumbangkan kekayaan saya
untuk urusan akhirat. Mungkin sekitar 30% kekayaan
saya, saya sumbangkan. Coba mana ada yang dermawan
seperti saya?

Wartawan:
Menurut bapak seandainya boleh memilih lebih baik
bapak jadi pengusaha jujur tapi hidupnya sangat
sederhana atau seperti sekarang kaya raya?

KS2:
Pertanyaannya kok aneh. Ya udah jelas saya milih
seperti sekarang. Kalau saya seperti dulu mana bisa
saya nyumbang kemana-mana?

Wartawan:
Tapi pak, kan harta bapak diperoleh dengan tidak
syarÃÊ. Bukankah kalau bapak menyumbangkan semua harta
bapak tetap aja bapak salah karena tujuan tidak
menghalalkan cara. Selain itu bukankah masyarakat umum
dirugikan karena uang yang dikorupsi seharusnya bisa
untuk membuat jalan, rumah sakit, sekolah dsb?

KS2:
Wah sampeyan bikin saya pusing. Hidup di dunia ini
mesti kompromi mas. Mana ada orang yang suci. Saya
punya teman pegawai negeri yang jujur. Dia hidupnya
susah, suatu saat istrinya masuk rumah sakit karena
kanker, ya saya kasih bantuan. Biaya pengobatan saya
tanggung semua. Saya bilang ke teman saya ini, udahlah
nggak usah dipikirkan, pokoknya istrimu dirawat dengan
baik. Ada juga teman saya yang lain yang profesinya
juga pengusaha seperti saya tapi orangnya maunya lurus
aja. Suatu saat dia perlu dana untuk mengerjakan
proyeknya, ya saya kasih, tanpa bunga lho!

Wartawan:
Iya ya pak. Tapi mohon maaf pak, apakah menurut bapak
lebih mulia jadi pengusaha jujur tapi biasa aja atau
pengusaha kaya yang berkolusi tapi bisa nyumbang sana
sini?

KS2:
Saya tidak tahu. Tapi saya rasa saya kan lebih berguna
buat agama dan umat saya karena saya bisa menyumbang
besar untuk agama dan umat saya tersebut.

Wartawan:
Sekali lagi maaf pak, saya cuma ingin tahu, apakah
sebenarnya bapak lebih takut miskin atau lebih takut
dengan Tuhan bapak?

KS2:
Ya lebih takut dengan Tuhan saya dong.

Wartawan:
Berarti bapak lebih takut dosa berbuat korupsi
daripada takut miskin?

KS2:
Wah saya rasa itu bukan trade off seperti itu. Anda
ini seolah-olah membuat kedua hal ini jadi pilihan
yang sulit dihindari.

Wartawan:
Menurut saya bapak lebih takut hidup miskin daripada
takut Tuhan. Bapak menomorduakan Tuhan.

KS2:
Saya tidak setuju dengan pendapat sampeyan. Saya tidak
merasa seperti itu. Saya juga sering jiarah ke tanah
suci. Itu bukti saya taat beribadah.

Sang wartwan kehabisan kata-kata. Sang KS2 terus
melakukan aksinya dan masyarakat tetap menghormati
orang ini. Sebagai pengusaha beliau memiliki mobil
mewah yang sangat mahal dan rumah yang besar dan indah
tapi juga dia sangat dermawan kepada orang, partai
atau lembaga yang membutuhkan uluran dananya.

Sang wartawan cuma bisa sedih dan berdoa mudah-mudahan
masih ada orang yang jujur dan amanah sehingga Negara
dan umat bisa selamat dunia akhirat.

Sumber :

http://imamrasyidi.blogsome.com

DIALOG IMAJINER KYAI DAHLAN & KI HAJAR





Alkisah di akhirat, bertemulah KH. Ahmad Dahlan dengan temannya, Ki Hajar Dewantara sesama begawan pendidikan nasional di negara antah berantah, Indonesia. Karena sudah tidak lama berjumpa, keduanya terlibat pembicaraan mengenai kondisi pendidikan di negara mereka dulu.

“Assalamu’alaikum, Ki”, Kyai Dahlan menyapa Ki Hajar. “Wa’alaikum salam, Kyai,” jawab Ki Hajar”Apa kabar dan apa aktifitas Kyai di alam akhirat selama ini?”. Kyai Dahlan pun menjawab : “Baik, di alam akhirat ini saya masih mengajar. Banyak orang yang sudah meninggal yang saya temui masih dangkal ilmunya, baik ilmu agama maupun ilmu dunianya. Rupanya jiwa pendidik saya tidak berhenti pada saat saya hidup saja, ketika mati pun ilmu saya harus diajarkan dengan ikhlas dan serius. Ki Hajar sendiri bagaimana?”

“Sama dengan pak Kyai. Saya berusaha sekuat tenaga meluruskan pemahaman masyarakat negara kita dulu tentang paradigma pendidikan, meski terlambat karena mereka sudah meninggal. Setidaknya saat ditanya Allah di padang mahsyar nanti mereka tidak salah jawab”, ujar Ki Hajar. “Memangnya kenapa dengan paradigma pendidikan masyarakat di negara kita dulu?,” tanya Kyai Dahlan.

“Orang-orang di negara kita memang berhasil membangun lembaga pendidikan yang besar-besar gedungnya, sekolah ada dimana-mana, bahkan saya dengar berita dari beberapa orang yang baru meninggal, di sana pendidikan mulai di gratiskan,” jawab Ki Hajar. Karena heran, Kyai Dahlan bertanya : “Kan itu perkembangan positif Ki?”

“Memang, tetapi beberapa dari mereka menganut paradigma yang mulai melenceng. Pendidikan tidak lebih dari proses mendapat kerja bukan memahami dunia. Seolah menuntut ilmu adalah tuntutan dalam mencari uang di masa depannya, bukan dalam menggapai kebenaran. Budaya instan merajalela, di LBB siswa diajarkan menjawab soal, bukan memahami persoalan. Dalam ujian, yang penting adalah lolos, bukan lulus. Bahkan yang lebih memprihatinkan, guru cenderung menjadi pekerjaan bukan panggilan kesadaran. Ikhlas tidaknya mereka mengajar berbanding lurus dengan gaji dan tunjangan. Apalagi di sekolah milik negara, guru diincar karena itu berarti bisa dapat pensiun saat tua. Hingga untuk mendapatkannya banyak yang berlaku curang,” jawab Ki Hajar. “Bagaimana dengan perkembangan sekolah swasta yang Kyai Dahlan rintis?”

“Tidak jauh berbeda Ki. Yang membuat saya prihatin adalah mereka merasa rendah diri di hadapan sekolah milik negara. Itu kan ahistoris, saya mendirikan sekolah swasta jauh sebelum negara ini merdeka dan memiliki sekolah. Tetapi sekolah swasta sekarang tidak punya keberanian merumuskan sistem pendidikan mereka sendiri. Dan lagi Ki, pendidikan Agama Islam dan Kemuhammadiyahan dianggap tidak penting, jadinya moral siswa berantakan.” Jawab

Tiba-tiba ada orang datang, rupanya dia baru meninggal. Dia tampak sedih. Kyai Dahlan dan Ki Hajar menyapa orang itu. “Ada apa gerangan ki sanak, sepertinya anda sedih?”. Orang itu menjawab: “Semasa hidup saya seorang guru, saya meninggal karena dihakimi massa akibat perbuatan saya mencabuli siswi saya sendiri”.

Ada lagi yang datang, kali ini seorang remaja. Dia juga tampak sedih. Kyai Dahlan dan Ki Hajar pun menyapanya. “Ada apa gerangan nak? Kok tampak sedih?”. Dijawab oleh anak muda itu. “Saya meninggal karena bunuh diri. Hal itu saya lakukan karena stress tidak lulus ujian nasional, padahal saya sudah menyiapkan contekan dan beli jawaban dari calo,” jawabnya.

Kemudian ada lagi yang datang. Seorang pemuda. Karena tampak sayu, Kyai Dahlan dan Ki Hajar juga bertanya. “Ada apa gerangan mas? Kok telihat tidak semangat!”. “Saya mahasiwa yang meninggal karena tawuran,” jawabnya.

Mendengar jawaban mereka. Kyai Dahlan dan Ki Hajar kaget. Mereka sepakat untuk kembali ke dunia dan memperbaiki kondisi pendidikan di negara mereka. “Ayo kita minta kepada Allah untuk memberikan kita nyawa lagi supaya kita bisa hidup dan meluruskan semua ini. Apa jadinya negara kita jika insan pendidikan seperti ini”. Namun belum sempat minta dihidupkan, malaikat menghentikan keduanya.

Kepada Kyai Dahlan dan Ki Hajar, malaikat berkata : “Kyai Dahlan dan Ki Hajar yang saya hormati. Maaf, anda berdua tidak bisa hidup lagi. Untuk mewujudkan keinginan anda berdua, maka anda bisa mentransformasikan pemikiran dan keinginan anda saja kepada yang masih hidup. Insyaallah, masih ada yang bisa merasakan semangat kebenaran anda berdua saat ini juga,” kata malaikat.

Dengan berlinangan air mata keduanya mengangguk. Dan mereka berdua berharap, hanya bisa berharap. []

Penulis : afkareem

www.ahmadfk.wordpress.com

Pedoman Hidup



1. Jika sudah terjadi masalah, tdk harus dihindari (bingung), tapi HARUS DIHADAPI dengan tenang dipikirkan jalan keluarnya) dan pasti selesai/ ada jalan keluarnya.

2. Menghadapi semua hal, tdk boleh berpikir negatif, seperti: "saya pasti tdk mampu", "saya tdk bisa", dan seterusnya. Tapi selalu berpikir positif, seperti: "saya bisa, pasti ada jalan keluarnya" dan lain lain.


3. Sudah dan senang semuanya tergantung pikiran saja!! ( Pikiran adalah pelopor!!). Jadi jaga pikiran kita baik - baik. Jangan pikir yang jelek/negatif. Selalu berpikir yang positif (baik).

4. Segala kesulitan/kesusahan akan berakhir. sebesar apapun masalahnya akan selesai juga dengan berjalannya waktu. Seperti pepatah mengatakan : TIDAK ADA PESTA YANG TIDAK BERAKHIR.

5. Orang yg sukses 85% ditentukan dari sikap/prilaku, 15% baru ditentukan ketrampilan. Jadi sikap kita dalam hidup ini sangat penting.

6. Segala sesuatu berubah (anicca). Kita tdk perlu susah. Misalnya : sekarang susahnya, selanjutnya pasti berubah menjadi senang. sekarang ada orang yang tdk senang pada kita, suatu saat nanti akan baik juga.

7. Hukum karma, berarti berbuat baik akan mendapat hasil baik dan sebaliknya, seperti tanam padi, pasti panen padi. Ingat!! Usahakan setiap saat selalu berbuat (tanam) kebaikan agar mendapatkan (panen) kebaikan. Jgn melakukan kejahatan. Dan jgn berharap mendapat balasan dari perbuatan baik kita!!!

8. Kesehatan asalah paling nomor satu (berhaga). Jaga kesehatan kita dengan olahraga, istirahat yang cukup dan jangan makan sembarangan.

9. Hidup ini penuh dengan masalah/persoalan/penderitaan. Jadi kita sdh tahu TIDAK MUNGKIN SELALU LANCAR/TENANG. Siapkan mental, tabah, sabar dan tenaga untuk menghadapinya. itulah kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh setiap manusia.

10. Masa depan seseorang sangat tergantung pada sikap dan buku buku yang dibaca. Jadi membaca sangat penting dan menentukan masa depan seseorang.

11. Jangan membicarakan kejelekan orang lain, karena kita akan dinilai jelek oleh orang yg mendengarkannya.

12. Pergaulan sangat penting dan merupakan salah satu kunci sukses. Boleh bergaul dengan orang jahat maupun baik asal kita HARUS TAHU DIRI/JANGAN TERPENGARUH LINGKUNGAN. Lebih baik lagi apabila kita bisa menuntun yang jahat ke jalan yang benar.

13. Budi orang tua, tidak dapat dibayar dengan apapun juga. begitu juga dengan budi orang2 yang telah membantu kita.

14. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi jangan minder dengan kekurangan kita. dan jangan iri dengan kelebihan orang. HARGAILAH DIRIMU APA ADANYA!!!

15. JANGAN MEMPERTENTANGKAN (MEMPERDEBATKAN) hal hal kecil yang tdk berguna dengan siapapun juga.

16. Kunci sukses dlm hidup ini, selalu bersemangat, berusaha, disiplin, sabar, bekerja keras, rajin berdoa/sembahyang, banyak berbuat baik serta tdk blh berputus asa.

17. Jangan Menilai orang dari Harta(kekayaan), penampilan ataupun kondisi fisik. Semua orang itu SAMA!!!

Sumber : tiens-oke.blogspot.com

Rabu, 17 Juni 2009

Masa Lalu atau Masa Depan?


Mungkin, Anda pernah berpikir atau mengatakan:

“Saya tidak bisa melakukannya.”
“Saya tidak mampu.”

Pernyataan ini menggambarkan suatu kondisi Anda. Pertanyaanya, kondisi kapan? Masa lalu atau masa depan?

“Oh tidak, pernyataan ini menggambarkan kondisi saya saat ini. Saya memang tidak bisa melakukannya saat ini.”

Mari kita tanyakan lagi, mengapa tidak bisa? Mengapa Anda pikir Anda tidak bisa?

“Karena kemampuan saya sekarang sebatas ini.”

Kenapa hanya sebatas ini?

“Inilah hasil belajar dan pengalaman saya selama ini.”

Hasil belajar dan pengalaman masa lalu kan?

“Iya sich.”

Jadi kondisi Anda saat ini adalah hasil dari masa lalu. Masa lalu dimulai dari detik ini ke belakang.

Lalu bagaimana dengan masa depan? Apakah Anda tidak bisa belajar lagi?

“Ya tentu, saya bisa belajar.”

Apakah Anda bisa melakukan hal baru jika belajar?

“Mungkin.”

“Mungkin” adalah starting point yang lebih baik dibanding kata “tidak bisa”. Kata “mungkin” mengandung sebuah harapan, sebaliknya kata “tidak bisa” memupus harapan.

Dulu, ada seorang kerabat saya mengatakan

“Uang dari mana untuk membiayai anak kuliah?”

Itu dulu…

Sekarang?

Anaknya kuliah!

Dulu, ayah saya berkata kepada saya:
“Sekarang memang tidak punya uang, tetapi jika Allah mengijinkan, kamu bisa menyelesaikan kuliahmu. Kekurangan uang tidak bisa menghalangi kekuasaan Allah.”

Sumber : http://www.motivasi-islami.com

5 Cara Melatih Berpikir Kreatif


Kreatif” hanyalah sebuah kata pendek dan sederhana. Namun, berkat pemikiran kreatif, kesuksesan besar, semisal kemajuan teknologi, industri, dan bidang lain, terjadi.

Tidak berlebihan bila dikatakan, berpikir kreatif merupakan kunci keberhasilan.
Lalu, bagaimana cara untuk bisa berpikir kreatif?

Berikut ini cara yang bisa dicoba:

- Berpikir, semua bisa dilakukan

Yakinlah, sesuatu yang akan kita kerjakan mampu kita selesaikan. Artinya, harus optimis. Buang ungkapan bernada pesimis. Misal, ”Saya mungkin bisa mengerjakan”. Ganti dengan ungkapan penuh optimisme. Contoh, ”Saya pasti bisa mengerjakannya”, ”Bagi saya tidak ada kata menyerah!”.

Pernyataan optimis melatih kita berani masuk ke persoalan. Pola pikir pun berkembang, karena dipaksa memeras otak untuk mewujudkan tekad itu.

- Hilangkan cara berpikir konservatif

Pola berpikir konservatif ditandai dengan kekhawatiran untuk menerima perubahan, meski perubahan itu menguntungkan. Karena ingin mempertahankan gaya konservatif, perubahan ditanggapi secara dingin, bahkan dipersepsikan sebagai ancaman. Karena merasa nyaman atau diuntungkan dengan cara konservatif, ketika dituntut untuk mengubah pola pikir, kita takut akan mengalami kerugian.

Hendaknya disadari, cara berpikir konservatif memasung pemikiran kreatif karena pikiran dibekukan oleh sesuatu yang statis. Padahal dalam berpikir kreatif unsur statis semestinya dihilangkan. Mulailah berpikir dinamis, dengan terus mengolah pemikiran untuk menemukan pola pikir efektif.

Ada tiga cara mengurangi atau menghilangkan pola berpikir konservatif.

Pertama, terbuka terhadap masukan. Masukan adalah bahan mentah sangat berharga. Lalu, kita mengolahnya menjadi “barang jadi” lewat pemikiran kreatif. Jadi, jangan takut dengan ide, usulan, bahkan kritik. Karena semua itu merangsang kita berpikir kreatif.

Kedua, mencoba pekerjaan atau hal di luar bidang kita. Untuk ”memperkaya” diri, pola pikir juga perlu menghadapi sesuatu yang berbeda dari biasanya.

Ketiga, harus proaktif. Kita dituntut ”menjemput bola” dalam menghadapi sesuatu, dan bukan ”menunggu bola”. Bertindak proaktif berarti membuat diri bebas memilih tindakan, tentu berdasarkan perhitungan matang. Ini bisa terjadi kalau kita mempunyai kreativitas berpikir.

( from Kompas dot com )